udah lama nggak curhat
atas usul dd kelasku, Novita, akhirnya aku curhat lagi. (dia bilang judulnya "written record of veronica" tapi isinya belakangan summary)
benernya mau cerita ini dari kemarin, tapi rasanya otak udah nggak kuat buat mikir
kemarin (Minggu, 26 Juni 2011 18.30 WIB) aku kebaktian sore (karena tiap minggu terakhir emang ibadahnya gabungan)
pendetanya aku lupa namanya, yang jelas (ngakunya) dari desa~
nggak tau kenapa, tiap dengerin khotbah, bawaannya ngantuuuuuuuk terus (apalagi kalo udah petang-petang)
alhasil, biasanya demi mengusir kengantukan, aku baca perikop lain, garisi sendiri.
dari awal beliau khotbah, udah kerasa ngantuknya~ tekluk-tekluk ni kepala, nyari sandaran.
kalo nggak salah beliau ambil dari Kis 1:8 (aku buka bentar, ternyata uda pernah aku garis bawahi, langsung aku buka-buka yang lain <
dan yang tak bukaaaaaaa mulai dari 1 Timotius... aku baca, baca, baca dan sampailah pada 1 Tim 2:8-14. jedyer~ baca judul perikopnya (Mengenai sikap orang laki-laki dan perempuan dalam ibadah jemaat), sudah ada feeling nggak enak (pasti kesindir, dsb)
-masih mbayangin- 1 Tim 2:9 "...rambutnya jangan berkepang-kepang" kih maksude piye yoh. (sokdong memikirkan hal-hal yang kecil, hal yang besar malah lupa). terus aku mbatin, lanjut ah~ 1 Tim 2:11-12 berbunyi, "Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri." glek-----
"...tidak mengizinkannya memerintah laki-laki"...
wah, berarti apa yang udah aku lakuin selama ini salah (sing: mengapa kau benar dan aku selalu salah~~~~)
aku (seperti biasa) memandang sekelilingku, dan menyimak khotbah (mau mengalihkan topik ceritanya)
boro-boro mengalihkan topik, Pak Pendeta tau-tau bilang "mari kita bersama membuka Rut 1:16-17".
karena udah lama nggak buka Rut, aku langsung buka, baca, dan....
"Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"
ini perkataan Rut ke Naomi (mertuanya). ITU SAMA MERTUANYA.
mau nggak mau, mbayangin. aku sama mama aja nggak sampe segitunya.
di rumah, kalo diajak ngomong panjang dikit aja, aku langsung nyingkir
kalo diajak pergi, aku bilang enakan di rumah (akhirnya mama pergi sendiri sama papa)
kalo berantem, mataku menyipit, memandang tajam, kayak bersiap menerkam -____-
disuruh bantu-bantu bilangnya, "ogah, nggak bisa, lagian aku nggak ada bakat jadi PRT, nanti aku waktu gede jadi bos besar" (. . . . .) dan mama jawab, "anak perempuan harus bisa bla bla bla" whatever~aku kabuuuur~
disuruh jangan bolos les, aku jawab, "apa toh? wong dah mudeng materine, gak ada PR sisan. kapan-kapan wae nek lagi mood"
disuruh mbersihin kamar sendiri, jawabku, "buat apa? dibersihin paling ntar yoh kotor lagi"
disuruh nyingkirin buku-buku pelajaran yang udah nggak kepake, aku jawab, "ntar lah nek aku udah kost, paling juga tak pilihi"
disuruh bantuin jaga toko, "jaga toko digigit nyamuk. nggak ah"
disuruh baik-baikin pembantu, "la wong mbak'e ki sksd ok, gilo aku. gek iso ngerti-ngerti curhat dewe masalah keluargane, majikane seng lama lesbi mbe dee,emange ono seng takok? yo mending tak kacangi. nek nyatane dee seng lesbi piye? mati noh aku"
disuruh jangan di depan laptop terus, "nek mau aku nggak di depan laptop terus, jalan-jalanin aku keliling Eropa."
disuruh jangan berantem sama dd, "wong dee seng nggak ngajeni. iso-isone ngelok-ngeloke aku, nggak sadar diri apa, kene nek wani, ojo neng njero kamar terus, pengecut." mama jawab, "la kamu badannya kan lebih besar, dia takut" (dipikir-pikir badanku juga gak jauh lebih gede dari dee, kacek dikit doang). "la nek emang takut ngopo ngelok-ngeloke terus dari dalem kamar?!" -----mam selalu tidak bisa menjawab----
SUNGGUH TERLALU
aku sempet denger cerita banyak temen tentang hubungane sama mama'e. nggak ada yang sewani aku......
aku kadang merasa bersalah
tapi kok yo tak ulangi lagi
sering ikut rekoleksi jaman SMP, ngirim surat ke orang tua, minta maaf, janji nggak bakal berani lagi, janji jadi anak baik, dst. baru belum ada seminggu udah lupa tu janji.
waktu dengerin khotbah tu, aku dateng cuma berdua sama mamaku, cuma berani nundukin kepala
jan-jane aku ya pengen nyenengke mama, tapi apa daya bibit-bibit ceplas-ceplos sudah tertanam dalam otakku
maunya ngomong ini, yang muncul itu
sorry ya ma, aku cuma isa nulis disini. mending nulis disini daripada di sms. ntar mama kira aku udah kerasukan kalo tau-tau sms gini. kalo disini kan mama nggak bakal baca (terus apa gunane mbuat ni cerita)
cuma mau sharing~
jangan kayak aku ya, pembaca sekalian
aku dulu diajarin ngomong kasar dari mas-mas yang kerja di tempat mamaku, nama panggilannya Jangkung.
sekarang udah meninggal. eh. nggak tau masih hidup apa nggak
Have a wonderful family time, readers!
atas usul dd kelasku, Novita, akhirnya aku curhat lagi. (dia bilang judulnya "written record of veronica" tapi isinya belakangan summary)
benernya mau cerita ini dari kemarin, tapi rasanya otak udah nggak kuat buat mikir
kemarin (Minggu, 26 Juni 2011 18.30 WIB) aku kebaktian sore (karena tiap minggu terakhir emang ibadahnya gabungan)
pendetanya aku lupa namanya, yang jelas (ngakunya) dari desa~
nggak tau kenapa, tiap dengerin khotbah, bawaannya ngantuuuuuuuk terus (apalagi kalo udah petang-petang)
alhasil, biasanya demi mengusir kengantukan, aku baca perikop lain, garisi sendiri.
dari awal beliau khotbah, udah kerasa ngantuknya~ tekluk-tekluk ni kepala, nyari sandaran.
kalo nggak salah beliau ambil dari Kis 1:8 (aku buka bentar, ternyata uda pernah aku garis bawahi, langsung aku buka-buka yang lain <
dan yang tak bukaaaaaaa mulai dari 1 Timotius... aku baca, baca, baca dan sampailah pada 1 Tim 2:8-14. jedyer~ baca judul perikopnya (Mengenai sikap orang laki-laki dan perempuan dalam ibadah jemaat), sudah ada feeling nggak enak (pasti kesindir, dsb)
-masih mbayangin- 1 Tim 2:9 "...rambutnya jangan berkepang-kepang" kih maksude piye yoh. (sokdong memikirkan hal-hal yang kecil, hal yang besar malah lupa). terus aku mbatin, lanjut ah~ 1 Tim 2:11-12 berbunyi, "Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri." glek-----
"...tidak mengizinkannya memerintah laki-laki"...
wah, berarti apa yang udah aku lakuin selama ini salah (sing: mengapa kau benar dan aku selalu salah~~~~)
aku (seperti biasa) memandang sekelilingku, dan menyimak khotbah (mau mengalihkan topik ceritanya)
boro-boro mengalihkan topik, Pak Pendeta tau-tau bilang "mari kita bersama membuka Rut 1:16-17".
karena udah lama nggak buka Rut, aku langsung buka, baca, dan....
"Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"
ini perkataan Rut ke Naomi (mertuanya). ITU SAMA MERTUANYA.
mau nggak mau, mbayangin. aku sama mama aja nggak sampe segitunya.
di rumah, kalo diajak ngomong panjang dikit aja, aku langsung nyingkir
kalo diajak pergi, aku bilang enakan di rumah (akhirnya mama pergi sendiri sama papa)
kalo berantem, mataku menyipit, memandang tajam, kayak bersiap menerkam -____-
disuruh bantu-bantu bilangnya, "ogah, nggak bisa, lagian aku nggak ada bakat jadi PRT, nanti aku waktu gede jadi bos besar" (. . . . .) dan mama jawab, "anak perempuan harus bisa bla bla bla" whatever~aku kabuuuur~
disuruh jangan bolos les, aku jawab, "apa toh? wong dah mudeng materine, gak ada PR sisan. kapan-kapan wae nek lagi mood"
disuruh mbersihin kamar sendiri, jawabku, "buat apa? dibersihin paling ntar yoh kotor lagi"
disuruh nyingkirin buku-buku pelajaran yang udah nggak kepake, aku jawab, "ntar lah nek aku udah kost, paling juga tak pilihi"
disuruh bantuin jaga toko, "jaga toko digigit nyamuk. nggak ah"
disuruh baik-baikin pembantu, "la wong mbak'e ki sksd ok, gilo aku. gek iso ngerti-ngerti curhat dewe masalah keluargane, majikane seng lama lesbi mbe dee,emange ono seng takok? yo mending tak kacangi. nek nyatane dee seng lesbi piye? mati noh aku"
disuruh jangan di depan laptop terus, "nek mau aku nggak di depan laptop terus, jalan-jalanin aku keliling Eropa."
disuruh jangan berantem sama dd, "wong dee seng nggak ngajeni. iso-isone ngelok-ngeloke aku, nggak sadar diri apa, kene nek wani, ojo neng njero kamar terus, pengecut." mama jawab, "la kamu badannya kan lebih besar, dia takut" (dipikir-pikir badanku juga gak jauh lebih gede dari dee, kacek dikit doang). "la nek emang takut ngopo ngelok-ngeloke terus dari dalem kamar?!" -----mam selalu tidak bisa menjawab----
SUNGGUH TERLALU
aku sempet denger cerita banyak temen tentang hubungane sama mama'e. nggak ada yang sewani aku......
aku kadang merasa bersalah
tapi kok yo tak ulangi lagi
sering ikut rekoleksi jaman SMP, ngirim surat ke orang tua, minta maaf, janji nggak bakal berani lagi, janji jadi anak baik, dst. baru belum ada seminggu udah lupa tu janji.
waktu dengerin khotbah tu, aku dateng cuma berdua sama mamaku, cuma berani nundukin kepala
jan-jane aku ya pengen nyenengke mama, tapi apa daya bibit-bibit ceplas-ceplos sudah tertanam dalam otakku
maunya ngomong ini, yang muncul itu
sorry ya ma, aku cuma isa nulis disini. mending nulis disini daripada di sms. ntar mama kira aku udah kerasukan kalo tau-tau sms gini. kalo disini kan mama nggak bakal baca (terus apa gunane mbuat ni cerita)
cuma mau sharing~
jangan kayak aku ya, pembaca sekalian
aku dulu diajarin ngomong kasar dari mas-mas yang kerja di tempat mamaku, nama panggilannya Jangkung.
sekarang udah meninggal. eh. nggak tau masih hidup apa nggak
Have a wonderful family time, readers!
Love,
Vero
Vero
Tidak ada komentar:
Posting Komentar